Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, 18 October 2018

Saat yang terjeda



Sadarkah kamu tercabiknya alam bawah sadarku menembus batas kekhawatiran ketika ada saat yang terjeda, entah kamu dimana dan sedang apa tanpa ada kabar. Ada yang aneh dan tidak wajar, menunggu detik detik yang bermain detak tanpa merasa bersalah, lagi dan lagi, membiarkan inti jantung sesak dipenuhi tanya. Paham sih, hanya keping yang tidak ada arti, dengan rentang cerita yang membilur dalam cerita cerita yang lain, dan pastinya kalah seru dan asik. Mengubah penantian menjadi bentuk yang lain, bermain saja ular tangga yang membodohiku sejak SD. Sekejap naik dan turun secara liar, yang jadi pertanyaan abadi, seberapa besar prosentase pemain selalu naik tanpa turun dan selesai dalam sekejap. Adakah kiat khusus untuk menyelesaikan hal ini dalam hitungan jari tangan? Seperti pelarian dalam lamunan saat menanti? Sejenak tersenyum dan tiba-tiba menjadi sepi saat tiada. Lukisan yang telah merubah sudut pandang, terlanjur terbuka dan semakin sulit terpungkiri, dan menjadi bagian yang terbayang. Kembali membuat aku jadi makhluk nokturnal yang menyukai senyap dan indahnya malam, walaupun tanpa segelas kopi dan berbatang-batang pembawa mati itu. Pergi saja mencari beberapa bongkah putih bertekstur aneh tergantung tangan pembuatnya saat menuju genangan air panas, berharap panas dan kenyalnya menutup beberapa rongga yang sedikit kosong sebelum benar-benar menjadi rasa lapar yang mengerikan. .

Friday, 5 October 2018

Terkaan senja



Saharjo 2018

Kira2 berapa orang sih yang kurang kerjaan menyisihkan sebagian otak kirinya untuk berpikir aneh seperti ini? Melihat jutaan manusia berseliweran dengan isi otaknya masing2. Mencoba membayangkan dia yang sedang diam di atas kursi beton halte saharjo, sedikit2 membuka tas dan berkasnya, sekejap dimasukkan kembali dan dibaca lagi, seperti anak SD yang besok akan ulangan saja. Ada juga dia yang barusan menepi di depan visi resto, yang kurang kerjaan meributkan beberapa helai rambutnya yang terbuai angin, sedangkan dia tahu sebentar lagi harus meneruskan perjalanan, dengan motor yang sama dan angin yang sama, batas kewarasan di ujung tanduk. Ada juga hal yang membuat miris, saat ada sepasang kekasih (mungkin) yang sejenak menepi dan membuat aku kaget dengan adanya kata2 "dasar pelacur", dan berlanjut dengan permainan saling tampar yang terpaksa harus aku tengahi supaya tdk membuat macet berkepanjangan. Lima menit kemudian kosong, berjalan wajar, dan otak isengku sesekali bertanya, dia sedang apa ya disana? Apa dia masih bermain kertas dan corat coret? Lamunan terpaksa dipotong bapak bapak yang bertanya "bang, kalau gang satria 1 sebelah mana ya?" Spontan aku jawab itu disebelah gang satria 2 pak, dan dia mengucapkan terima kasih lalu pergi. Ini siapa yang gila? Sedangkan aku tidak tahu itu dimana.

Thursday, 19 July 2018

Jakarta kosong

Malam ini sepi buatku, tidak seperti malam orang lain, malammu dan malamnya. Saat jemari tak sengaja menyentuh 103.8, alun dan  dentingnya seakan semakin mengiris jana yang semakin merana. Tapi apa boleh buat, didengarkan saja daripada terlihat bodoh bermain channel. Bertanya kembali, ada apa ya dibalik senyuman indah itu? Sayang aku bukan dukun yang bisa membaca pikiran orang. Memasung abhinaya pun terbang dibawa antari. Bosan, melihat saja orang mengetik disebelah dengan sebelas jarinya. Rasanya tombol backspace lebih cepat luntur nantinya, jika melihat caranya, setiap maju lima huruf dia mundur lagi tiga huruf. Kapan selesai? Sudah jam segini belum juga pulang menunggu jemari berhitung. Sedikit lapar setelah mendengar ada yang barusan selesai makan bebek goreng, dan luar biasanya itu cuma pembukaan, katanya sih nanti mau makan malam yang kedua di nasi pedas. Berpikir juga, ditaruh dimana ya semua makanan itu, padahal terakhir beol sudah tiga hari yang lalu. Pasti serem isi di dalam perutnya. Kembali termenung dalam kertas, sungguh pelajaran paling berharga adalah membaca, menulis dan melamun

Pendakian Gunung Lemongan

  Kali ini saya mendaki Gunung Lemongan yang berada di dua kabupaten yaitu Lumajang dan Probolinggo. Saya mengambil jalur Klakah - Lumajang ...