Friday, 20 December 2019

Benar kan?

Benar kan tidak mudah?

Disaat rasa itu menamani

Menjadi munafik hanya menyesakkan

Kepalsuan yang dibenturkan

Tanpa ada opsi lebih untuk dikelola

Jika itu fiksi, kenapa bisa dikecap?

Logikanya semakin basi

Dimuntahkan semakin percuma, ditelanpun belum

Kaburnya menjadi

Ditapis dalam tengadah

Wednesday, 18 December 2019

Lelah

Lelah memaha(mi)
Saat desakan menemani setiap uc(ap)
Searti seandai yang terjadi bisa diera(mi)
Memenuhi langkah hari menuju gel(ap)

Langkah kecil sedikit tartat(ih)
Pun diam tak mampu memej(am)
Melenakan masa, teracuh memil(ih)
Tak ingin cerita ini berpeluh semakin dal(am)

Tertawa, ing(in)
Diantara semak berdu(ri)
Apa dia merasa, mungk(in)
Cemas-bimbang-nya hilang dan timbul tak terpungki(ri)

Didewasakan tanpa je(da)
Kapan mere(da)
Agar hilang sesak di da(da)
Hadirkan angan itu, sebagai pertan(da)

Thursday, 5 December 2019

Merindu teduh

Merindu ted(uh) 
Untuk membasuh kis(ah)
Berjalan tanpa pel(uh)
Memungkiri hati yang sebenarnya lel(ah)

Tempat  melamunkan paruh mas(a) 
Merasakan kembali hasrat yang melenakan jiw(a)
Ditemani selisih larutnya ras(a)
Membangkitkan cinta yang beranjak dalam kuas(a) 

Menemani malam tanpa peradu(an)
Yang bimbang tanpa sebuah alas(an)
Pun dalam berbagai jumpa yang berkes(an)
Mengujarkan terangnya sebuah peluk(an)

Wednesday, 4 December 2019

Membiak


Merangkak menghabiskan ma(lam)
Disaat yang lain beberapa bersengga(ma)
Menolak bayang yang bermain ke(lam)
Diungkit sedikit teriak agar mengge(ma)

Mimpi semakin diac(uh)
Meski disingkirkan dentang dua belas ka(li)
Dini hari sudah bersama gemur(uh)
Ditenggelamkan sekian dan tetap kemba(li)

Geri(mis)
Sendi(ri)
Malas menge(mis)
Ini tentang harga di(ri)

Terlepas tak terkenda(li)
Semakin dalam meru(ak)
Tak ada tempat kemba(li)
Memeluk bayang membi(ak)

Thursday, 28 November 2019

Bukan itu, tapi ini


Pelarian malam? (tidak)
Hilangnya senja? (tidak)
Dengkuran anak nelayan di ujung biduk? (tidak)
Kayuh yang tersendat? (tidak)

Ini tentang lilin meski kecil, yang bernyala, untuk dijaga
Tentang sepasang kepak, yang rapuh tapi bisa menjulang, untuk menuju
Tentang guratan takdir,  yang mudah didera tapi bisa direngkuh, untuk mencinta
Tentang peluh, yang mengalir tapi bisa diseka, untuk selalu berjalan

Dan tentang yang lain
Dalam kisahnya masing2
Bertaut dalam detak

Monday, 25 November 2019

Dera

Dan semua tetap bergerak
Menemani waktu
Berderap, berdetak dan beriring
Membawa cemas, gemas bersamaan 
Terang yang diperjuangkan
Gelap yang dijatuhkan
Dalam pelarian, harapan
Didera rindu, benci yang acuh
Menuju beberapa bayang
Tak terbentuk meski mengadu

Wednesday, 20 November 2019

Sudah

Tersimpan genap
Dalam benak tak terpungkiri
Mengerak mendalam
Peliknya rasa makin menyudut

Semua tertuang
Membentuk kenangan, hanyut dalam kekosongan
Sesal hanya basi yang tertunda
Dirangkum bab demi bab, mewarna cerita

Mata hati? Terbenam jauh
Bukankah cukup?
Bisakah logika itu ditepis
Membiarkan yang ada, dan sudah ada, melayang bebas bertautan

Tuesday, 12 November 2019

Kita?

Kita duduk bertiga

Aku, kamu, dan rindu

Mambayangkan pelukan dan ciuman

Yang masih berjaga .

Hanya ada suara berderik, yang membenamkan seluruh malam ke sepi yang semakin pekat

Berusaha menerjemahkan angin menggugurkan daun yang kepayahan bertahan dari rantingnya, rintik yang menyentuh jari, embun yang singgah di dahi, kapan matahari yang memahami terang lebih awal dari pagi terbangun, larik kata yang tak sempat terbaca, lagu pagi hari tadi yang sumbang, kopi hitam tanpa gula diantara meja - kursi - dan gelas-gelas kosong lainnya.

Sore tadi kenangan adalah hal-hal yang bernama kamu, dengan debar-debar, ilusi yang membungkus, mengelilingi diam, menemani pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban diantaranya "Tuhan yang baik, dengan apa sepi ini dibunuh?"

Thursday, 7 November 2019

Berteman dengan waktu


Aku dan waktu
Beriring menemani jalan yang terpola
Lewati bentang bentang yang menjadi lambang
Menerawang tiap sapa yang diucap

Hatiku yang sudah terbelah
Teteskan peluh 
hadirkan tawa dan canda
Membius bilur yang tertunda

Belai manja dan kecup 
Membuka gelap mata dan semakin menghidupkan hidup yang ada
Hati ini tak akan beku karena hadirmu
Terpaku dalam ikatan.

Bersemi tanpa resah, 
Bahwa Tuhan tidak bercanda 
Membuat aku terjerat 
Dan menjatuhkan hati di suatu tempat 
yang kuyakini

Wednesday, 6 November 2019

Buih Putih

Gemuruh mengalir..
Beriring..
Beriramakan suatu pesan…
Pesan asa diri akan sebuah cerita anak manusia..
Tanpa sinopsis..
Skenario tanpa paksaan..
Tanpa ada pagar berduri yang hantui jiwa sang kelana..
Menggema saling bersautan..
Ungkapkan isi hati
Yang diharapkan
Tuk berenang…
Ke tengah alur biru gelap namun bermakna..
Terbawa ke siklus hidup sang krapu bintik bergerak membawa pesan berwarna merah muda

Wednesday, 23 October 2019

Duga

Sore memanjang semaunya
Kamu dimana?
Aku sudah di sini

Terduduk sendiri
Kangen bicara apa saja
Telpon genggammu mendiam
Tak terasa sudah berdering lima belas kali

Tak ingin pulang dalam liputan duga
Meski menunggu dalam bosan
Dan dia juga belum datang

Pendakian Gunung Lemongan

  Kali ini saya mendaki Gunung Lemongan yang berada di dua kabupaten yaitu Lumajang dan Probolinggo. Saya mengambil jalur Klakah - Lumajang ...