Wednesday, 9 October 2019

Tanpa jeda

Beberapa kata terperangkap rindu

Pada tanda baca terakhir, sering kali ada yang tak hendak ada

Pada kata terakhir, terjebak sunyi, tanpa jeda

Di hadapan waktu yang tak lagi bersuara, aku menyimpanmu

Dan aku membiarkan namamu diujar berulang-ulang dalam ingatanku

Thursday, 3 October 2019

Dan?

Huruf dan kata, berhenti menuliskan  sunyi

Bintang dan bulan, berhenti membentuk malam

Kita menjadi sepasang metafora

Dan di dalamnya kita sama sama tenggelam

Friday, 20 September 2019

26


Saat 26 huruf sudah tidak mampu merangkai kata

Saat kata sudah tidak mampu merangkai kalimat

Saat kalimat sudah tidak mampu menjelaskan maksud

Saat maksud sudah tidak mampu menjelaskan makna

Saat makna sudah tidak berarti apa apa

Ternyata waktu tidak selalu bisa membuktikan

Ternyata rentang itu membiaskan secara tajam

Kepingan yang ada ternyata tidak mudah mengikhlaskan yg lalu

Canda dan tawa ternyata tidak menjamin bahagia

Kebebasan itu ternyata mahal

Pencari kebebasan harus selalu melawan arus, berjalan sendiri untuk menghauskan

Asumsi itu membunuh lebih kejam

CandaanMu kali ini benar benar tidak lucu

Minum teh saja sembari mengisi kolom TTS, agar tidak tenggelam dalam kekakuan yang ada

Bermain jari di ujung cangkir 

Membilurkan sesaat, sebelum kulari ke hutan dan menepi mendengarkan debur


Note :

Edgar Allan Poe (1809-1849) puisi merupakan sebuah kreasi keindahan yang berirama. 

Robert Frost (1874-1963) puisi adalah ketika emosi telah menemukan pemikirannya dan pikiran tersebut telah menemukan kata-kata.

Khalil Gibran (1883-1931) puisi adalah tentang kegembiraan, rasa sakit dan keajaiban.

Wiji Thukul yang menganggap bahwa Seni (termasuk puisi) sesungguhnya hanya satu bentuk dari banyak tafsir atas realitas, seni bukanlah sesuatu yang kosong dan tidak berpihak, Justru ia memiliki pemihakan yang besar, yakni atas hati nurani.”

Wednesday, 18 September 2019

Kemana dan dimana

Sejauh itukah seseorang begitu ingin berguncing tentang orang lain?

Segitunya seseorang lebih memikirkan tentang orang lain sedang apa, dibandingkan mengembangkan pribadinya sendiri?

Sebanyak itukah waktu luang yang tersedia oleh seseorang untuk bergosip dibandingkan menyelesaikan beban tanggung jawabnya sendiri?

Sudah sempurnakah seseorang hingga kesalahan orang lain (yang katanya salah) mampu menghapus segala kebaikan dan nilai-nilai yang ada pada orang tersebut?

Kemana hilangnya nurani seseorang untuk menjadi orang yang hebat lalu mampu menghakimi orang lain dibandingkan Nya?

Apakah memang seseorang lebih memilih untuk mencari kesalahan orang lain dibandingkan dengan melakukan instropeksi diri?

Bijak itu saat orang tua mengatakan "Le, ojo kakean ngurusi polahe wong liyo, ora elok". Apakah sudah tidak ada ajaran seperti itu lagi saat ini?

Tuesday, 17 September 2019

Sentuh saja

Bisa ya meregangkan abhipraya dalam sekehendak

Tanpa ada hak jawab?

Memang sih bukan adhigana diantara lembaran yang ada, bukan juga adyuta sepanjang rentang, bermain, katanya

Ah, percuma juga babil, toh ada yang merasa bagai ratu balinda

Sudah puas?

Sepertinya

Hanya diam tuh? Yakin tidak ingin akan baswara yang ada?

Jangan lupa masih ada kelak

Dan berputar putar pada masanya, meski bukan citraloka karena murni bagian dari citrapataku

Gandara, sentuh saja, jangan menadir

Tahu kan itu sakit?

Belum pernah?

Oh, sudah, dulu, tapi itu kamu, bukan kami

Kami 

Dan bukan kamu

Monday, 16 September 2019

Hanya Merajut

Iya, kamu
Begadang?
Hanya merajut
Sulamnya tersapu 
Tersipu enggan
Sedangkan angan?
Mendebur sesaat
Sudah basah?
Entah
Mungkin
Lihat saja alur mimpinya
Seru yang menyaru
Tertusuk (dan berdarah?) 

Friday, 19 July 2019

Detak berderet

Pagi adalah saat menyadari bahwa aku adalah milikmu

Setelah semalam meracau dalam mimpi tentang kita dan segala ceritanya

Bentang ini menyesakkan, membatasi genggam yang seharusnya ada

Bekas pelukan yang ada saat itu masih terasa meski deretan panjang detak berlalu

Akhirnya kata rindu pun sudah tidak pantas mewakili rasa yang ada

Thursday, 18 July 2019

Mendengung

Itu rabun atau tai mata
Kaburnya melarikan diri
Tak terbaca
Du di da di dum, lelah mencoba

Mendengung ucapan tadi
Bila aku bisa disana
Tanpa merapu
Dan jadi basi "karepe dewe"

Andai bisa bicara
Menuju yang mau
Tanpa angan liar yang membusuk
Menyirnakan waktu

Thursday, 11 July 2019

Di tepian hati

Malam ini angin membawa bisikan yang tertahan
Tentang cerita pendek di akhir Juni yang masih bersilih saat ini
Jejaknya ternyata membekas 
Memburu angan melintas sisa sejuta bintang

Diresahkan dalam kesengajaan... (mungkin)

Kesederhanaan rasa 
Dan tentang serba yang apa adanya
Kadang tak mampu menjadi perantara
Dan kembali dalam bifurkasi batas waktu, rasa serta logika

Di tepian hati, 11 Juli 2019

Friday, 26 April 2019

Gubahan Baru

Pagi Cahaya Dunia...

Diantara pencakar yang mengakar

Membawa gubahan baru

Tentang syair rindu

Memainkan angan akan potongan sebelah jiwa di ujung langit yang lain

Sampaikan pesan cinta ini untuknya

Karena aku bukan manusia yang sempurna 

Wednesday, 27 February 2019

Jika

Diantarnya beberapa kerling dalam semalam
Memenggal masa yang tertuang dalam rasa
Bilur rindunya berkeliaran dalam ujung hari
Membiarkannya bermain dalam labirin jiwa

Jika semesta itu hanya sejengkal
Mungkin sudah kujajah semua sudutnya
Biar memudarkan beberapa khayal yang tertinggal
Memuaskan cita yang tersusun

Pendakian Gunung Lemongan

  Kali ini saya mendaki Gunung Lemongan yang berada di dua kabupaten yaitu Lumajang dan Probolinggo. Saya mengambil jalur Klakah - Lumajang ...