Tuesday, 12 February 2019

Jangan tinggalkan hobby

Hobby adalah suatu kesenangan, kesukaan akan suatu kegiatan tertentu seseorang dalam kesehariannya. Dalam hal ini tentunya yang akan dibahas adalah hobby yang bersifat positif. Antara satu orang dengan yang lain akan memiliki hobby yang berbeda-beda antara jenis, tingkat kesenangannya dan seberapa dalam seseorang tetap melakukannya. Kita sebagai insan ADHI memiliki agenda rutin terkait dengan pekerjaan masing-masing yang harus dikerjakan dan diselesaikan dengan batas waktu tertentu. Apakah dengan kondisi tersebut kita lalu tidak dapat mengatur waktu untuk melakukan hobby kita? Pertanyaan tersebut rata-rata dijawab dengan kalimat “saya tidak ada waktu lagi untuk itu”, “saya terlalu capek untuk melakukan hobby saya” atau “saya sedang dalam tekanan sehingga tidak bisa berpikir yang lain” serta alasan yang lain. Kita menjadi lupa bahwa hobby adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa kita tinggalkan, menjadi  salah satu hal yang dapat mengembalikan energi dan membuat kita fresh kembali. Hidup itu perlu keseimbangan antara pekerjaan, ibadah, keluarga, teman, kesehatan dan olah raga, sosial, hobby dan istirahat. Bagaimana cara mengaturnya dikembalikan ke pribadi masing-masing.

Salah satu hobby yang akan dibahas disini adalah hobby mendaki gunung. Banyak orang yang berpendapat bahwa orang yang mendaki gunung adalah hobby yang berbahaya, hanya dapat capeknya saja dan cenderung kurang kerjaan. Mereka tidak menyadari bahwa dengan melakukan salah satu kegiatan yang dekat dengan alam ini, kita akan mendapatkan kesegaran yang menyeluruh baik jasmani, mental maupun rohani kita. Secara fisik kita tertantang untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya agar stamina saat mendaki gunung dalam kondisi baik dan fit. Tidak melatih fisik dengan rajin berolah raga sebelum mendaki adalah sebuah kesalahan besar. Tubuh harus dibiasakan untuk mendapatkan beban fisik (jalan kaki puluhan kilometer, kondisi jalan yang naik – turun serta jenisnya yang kadang berbatu dan berlumpur, membawa beban tas carrier yang berisi bekal selama pendakian serta peralatan mendaki). Secara mental kita tertantang untuk menyelesaikan perjalanan pergi pulang dan syukur-syukur bisa mencapai puncak. Dalam pendakian, mencapai puncak bukan tujuan utama melainkan keselamatan. Banyak kendala dalam melakukan aktifitas ini salah satunya kondisi alam yang berkabut dan hujan, kondisi fisik kita dan teman seperjalanan. Bukan hal yang mudah untuk mencapai puncak gunung, sehingga mental kita diuji seberapa tahan kita menghadapi rintangan yang ada dan bagaimana kita bekerja sama dengan teman perjalanan. Mental juga akan diuji seberapa jauh kita menyiapkan perlengkapan (alat dan bahan) yang akan dibawa ke gunung. Jangan sampai kurang dan jangan sampai berlebihan kerena akan menjadi beban yang harus dipanggul selama perjalanan. Jika tidak kuat, ujung-ujungnya akan merepotkan teman seperjalanan. Kemampuan packing barang juga diperlukan disini sehingga bisa diatur secara ringkas. Secara rohani, salah satunya kita akan semakin dekat dengan Sang Pencipta. Menyadari bahwa kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan lainnya.

Mendaki gunung adalah bagian dari kegiatan pecinta alam, tidak sekedar penikmat alam atau bahkan menjadi perusak alam. Saat ini mendaki gunung menjadi salah satu trend yang kadang kala tidak dipahami oleh pendaki-pendaki baru. Sebagai pecinta alam tentunya kita harus merawat alam itu sendiri, tidak hanya sekedar naik gunung dan berfoto menikmati alam tetapi juga menjaga agar alam yang ada tetap asri. Mencintai alam dan jangan menodainya dengan kegiatan yang tidak benar di saat mendaki gunung salah satunya membuat coretan-coretan di pohon dan bebatuan yang ada, membuang sampah sembarangan. Masukkan semua sampah kita kedalam wadah dan bawa turun dari gunung. Selain itu, jika kita ingin mencintai alam, tentunya kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu dengan menjaga pola makan, pola hidup yang baik (rutin berolah raga salah satunya) dan ibadah.

Puncak Mahameru (Gunung Semeru – 3.676 Mdpl) – Gunung tertinggi di Pulau Jawa

Puncak Indrapura (Gunung Kerinci – 3.805 Mdpl) – Gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara

 Puncak Gunung Gede 2.958 Mdpl – Jawa Barat

 Jadi, apakah hobby harus ditinggalkan?


Friday, 18 January 2019

Pengembara Malam

Pengembara malam yang keluar dari peraduannya
Hempaskan kelesuan dalam metafora yang menggema
Terbujur disisi temaram tanpa muara
Ingin ada jeda, tanpa daya mengakarnya begitu merupa

Sorak dan melompat-lompat dalam derai hujan
Diperas ribuan kesemuan dalam mencari keseimbangan
Pikiran ini sudah telanjang, menyeruak jauh dalam keabadian
Membasah dan merayap agar tidak berkejaran

Sebanyak apapun diksi yang dipilih dan bahasa figuratif aku ucapkan
Masih jauh dari suaraku di ujung jendela karena rasa itu tidak dipaksa 

Tuesday, 25 December 2018

Senja dan Jingga




Huja(n)
Dingi(n)
Senj(a)
Dan Jingg(a)
Dimana kamu dan sedang a(pa)?
Tahukah disini aku menya(pa)?
Membuang angan yang sedikit ham(pa)
Menjalin rindu yang mener(pa)
Ingin menggenggam tangan(mu)
Yang selalu dilaku saat berte(mu)
Enggan melepasnya, terjerat er(at)
Tanpa jeda meski sesa(at)
Memelukmu adalah jawa(ban)
Dari kekosongan yang sempat mengem(ban)
Pertemuan yang menjadi keajai(ban)
Dalam lintas terbentangnya perada(ban)
Jika tulus itu (masih) belum berar(ti)
Mungkin perlu dijabarkan dalam saat menan(ti)
Membuat segalanya menjadi layak untuk dimenger(ti)
Dan jiwa yang berpasangan pun terbuk(ti)

Sunday, 23 December 2018

Dekap


Dipendam dalam diam
Mencoba rasa dalam dekap yang terpisah
Rentang yang terbentang 
Membuat kata disana dan disini bermain main riang
Mempertanyakan arti sebuah rasa ingin bertemu
Menyesakkan dalam gulana
Cukup carut saat menyusuri
Apa bejana rindu ini berhubungan dengannya juga?
Sadar sih tentang waktu yang berjalan
Pun tentang dinamika sebuah pergerakan
Menjawab saja peran perjalanan ruang
Menembusnya sementara dalam angan
Dan kecupan akan kening itu

Tuesday, 18 December 2018

Orang proyek

Kadang susah memahamkan dunia kami kepada orang lain

Pergi subuh

Pulang malam

Bahkan tidak pulang

Pulang telat

Menghitam

Kepanasan

Kedinginan

Kehujanan

Keringatan

Jarang mandi

Sumpek

Ngomel ngomel

Jadi diem

Gak bisa lepas dari hp

Bawa kerjaan ke rumah

Bawa laptop kemana mana

Dimaki orang

Dimarahin

Diancam

Dalam tekanan

Kejar target

Makan telat

Hidup di jalanan

Dipapar rindu

Didera ketidakpercayaan

Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, kami hanya orang teknik sipil yang dunianya seperti ini, dan kami mencintai pekerjaan kami

Monday, 17 December 2018

Semenjana

Semenjana saja saat mengalunkan pandang yang tertuaskan balutan angan...........


Sunday, 16 December 2018

Melangkah


Mata hati beradu dengan mata jiwa
Hati berbicara tentang pagi
Jiwa berbicara tentang berakhirnya hak sebuah malam
Saat hati menjamah senja
Jiwa menyentuhnya dengan jingga yang meluluhkan
Banyak rindu yang berlarian dalam angan
Menjadikan semua pesona itu membeku, digantikan dengan indahnya cinta
Ingin mengasihinya hingga akhir, bahkan menembus dimensi waktu dan ruang
Tanpa harus berlari dalam malam menuju pagi, tanpa rasa cemas akan sesuatu yg pasti.
Kadang dipurukkan dengan deretan kata, terlepas itu memang benar, haruskan diucap?
Semoga ada celah untuk sedikit mengintip satu kemungkinan berbinar dari jutaan gejolak pun disadari itu bukan maunya
Indah yang harus diciptakan dan diperjuangkan tanpa lelah, memburu dalam deru yang sangat pintar menyusup di relung tersekat sekat tanpa peduli 
Semua ini menghiasi hidup, mendewasakan aku dan kamu untuk melawan semua tanya
Kulangkahkan kaki untuk untuk sebuah mimpi, bersama kamu dan juga mimpimu dalam perjalanan hidup, buka saja tirai itu untuk melihatnya lebih luas

Monday, 10 December 2018

Bercik berkecipuk


Kulihat cahaya

dalam remangnya sendiri 

yang masih memudar

Sabit dan bintang timur masih enggan beranjak

Pun jingga sudah merayap menggapai batas cakrawala


Masih tenang, mengalun tanpa irama

Beberapa kali saja bercik berkecipuk dimainkan beberapa yang disana

Membangunkan sisa semalam

Masih dingin, sedikit, sebelum akhirnya nanti menyengat dipaparnya

Ditengah pikiran yang terbifurkasi 

Tuesday, 4 December 2018

Pagi yang didera


Selamat pagi semua jiwa jiwa yang didera pagi hingga semenjana

Sudah puaskah kalian berkeliaran menyusuri semua relung, pusaran rasa dan menciptakan semua ide bejat hingga mulia semalam? 

Sudahkah menghantui sebagian yang lelah akan arti sebuah makna, dan terpaksa membunuh semua kenang akan keningnya? 

Anucara, kamu dimana? 

Sebegitunya dalam antargata? 

Melihatmu baswara di penghujung matahari yang mulai terbangun, ciptakan saja banyak cadudasa cadudasa menjadi citraloka

Sayangnya aku bukan daksa dalam hal ini, hanya bisa bermain kata dalam lamun lamun liar yang hanasta

Jika dipikir, jaghana juga ya arti sebuah merindu, bisa melukai dalam dan atau menyeretnya dalam rangkaian senyum, senyum senyum sendiri di tepian, sudah untung tidak dikira menjelang gila.

Pendakian Gunung Lemongan

  Kali ini saya mendaki Gunung Lemongan yang berada di dua kabupaten yaitu Lumajang dan Probolinggo. Saya mengambil jalur Klakah - Lumajang ...